Kamis, 12 November 2009

DAMPAK KENAIKAN HARGA ELPIJI BAGI RAKYAT KECIL

Mata kuliah : Perilaku konsumen Nama : ILHAM SETIAWAN
Materi : Harga NPM : 10207553

DAMPAK KENAIKAN HARGA ELPIJI BAGI RAKYAT KECIL

Sejak 2007 pemerintah meluncurkan program pengalihan minyak tanah ke liquified petroleum gas alias elpiji. Selain untuk mengalihkan ketergantungan terhadap energi minyak tanah, penggunaan elpiji juga memiliki banyak keuntungan. Secara ekonomis, penggunaan bahan bakar gas cair memang lebih hemat dibandingkan dengan minyak tanah. Hal tersebut pasti menguntungkan para pelaku usaha di Tanah Air.

Sebagai ilustrasi, kebutuhan elpiji isi tiga kilogram selama sebulan adalah empat kali ganti tabung. Dengan asumsi harga per tabung tiga kilogram seharga Rp 12.750, maka total sebulan membelanjakan dana hanya sebanyak Rp 51 ribu. Sedangkan jika memakai minyak tanah, dalam sebulan dibutuhkan 30 liter dengan asumsi harga per liter Rp 2.500. Maka dalam sebulan dana yang dibutuhkan mencapai Rp 75 ribu.

Selain faktor ekonomis, elpiji juga menghasilkan panas lebih tinggi sehingga masakan menjadi lebih cepat matang. Hal tersebut tentu menambah singkat waktu masak. Penggunaannya juga tergolong lebih mudah serta aman karena tabung, kompor, regulator, dan selang gas sudah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia atau SNI. Kelebihan lainnya, gas buang elpiji rendah emisi sehingga tidak menimbulkan polusi udara dan asap. Hemat pemakaian, dan hemat waktu.

Manfaat penggunaan elpiji diakui oleh masyarakat. Tidak hanya ibu-ibu rumah tangga, namun juga para pengusaha mikro. "Pake elpiji ya lebih praktis, terus masak pun lebih cepat, peralatan juga nggak cepat kotor, jadi nggak pada hitam, jadi bagus pokoknya pake elpiji oke gitu," ujar Tata, seorang pedagang mi instan rebus dan bubur kacang hijau yang menggunakan elpiji tiga kilogram.Harga sangat mempengaruhi permintaan dan penawaran akan suatu barang atau jasa. Selain harga, permintaan ataupun penawaran juga dipengaruhi oleh banyak faktor. Seperti, selera dari konsumen, sedikit banyaknya produk yang diproduksi dan banyaknya penjual. Tetapi yang paling ditekankan permintaan atupun penawaran paling dipengaruhi oleh penetapan harga.
Pada zaman sekarang ini, kenaikan harga sangat melambung tinggi, contohnya yang paling nyata ialah kenaikan harga elpiji ? Mengapa elpiji, sekarang ini melambung tinggi dari tahun-tahun sebelumnya?? Karena pemerintah ingin mengurangi jumlah penggunaan bahan minyak tanah yang berasal dari fosil. Apalagi tahun ini, Indonesia mengalami peningkatan jumlah penduduk yang cukup tinggi dan merupakan Negara yang tingkat populasinya terbesar.
Kenaikan harga elpiji 12 kg sebesar Rp 1.200 diprediksikan memicu inflasi akibat kenaikan harga makanan olahan. Permintaan elpiji 3 kg pun akan bertambah sehingga memacu subsidi.
Yusuf Hadi, Bendahara Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) mengatakan subsidi untuk gas elpiji bisa membengkak seiring potensi peningkatan permintaan terhadap elpiji 3 kg dipicu kenaikan elpiji 12 kg sebesar Rp 2.100 (Rp 100/kg).
Namun menurutnya, peralihan ini hanya terjadi pada kelompok pengguna rumah tangga menengah. “Bukan karena mereka tidak mampu membeli yang 12 kg, tapi untuk tujuan penghematan beralih ke 3 kg,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (11/10).
Sedangkan untuk hotel dan restoran diyakininya tidak akan mengalami peralihan. Pasalnya, terlalu repot untuk menyetok elpiji tiga kiloan. Menurutnya, untuk hotel dan restoran biasa menggunakan tabung gas di atas 12 kg. “Yang berpengaruh adalah rumah tangga penguna 12 kg beralih ke 3 kg,” ujarnya.
Namun dengan kenaikan ini, restoran dan hotel berpeluang menikkan harga makanan olahan sehingga akan berkontribusi pada inflasi. Namun, hingga saat ini untuk bahan baku masih terjaga dari kenaikan inflasi. “Kenaikan elpiji 2% ini akan menyumbang inflasi untuk makanan olahan tetapi tidak untuk makanan pokok,” paparnya.
Mengenai seberapa besar sumbangannya terhadap inflasi, menurutnya tidak signifikan. Pasalnya, ongkos elpiji hotel dan restoran hanya sebesar 5-7%. Itupun tergantung pada produk apa yang dibuat. “Dari sisi inflasi memang berdampak tapi tidak terlalu besar,” imbuhnya.
Namun Yusuf menilai sejatinya langkah menaikkan elpiji tidak dilakukan Pertamina. Pasalnya, dolar AS sedang berada dalam tren pelemahan. Menurutnya, dengan penguatan nilai tukar rupiah ke level 9.300-an per dolar AS saat ini seharunya elpiji tidak dinaikkan. “Apalagi, ekspektasi terjadinya pelemahan dolar AS masih akan terus berlangsung,” tukasnya.
Lebih jauh Yusuf mengatakan gas elpiji merupakan barang impor yang diperjualbelikan dalam dolar AS. Sehingga, pada saat dolar melemah harga keekonomian elpiji pun seharusnya turun. “Karena itu tidak relevan menaikan gas elpiji pada saat pelemahan dolar AS,” timpalnya.
Menurut Yusuf Hadi, kebijakan Pertamina menaikkan harga elpiji untuk tujuan mencapai harga keekonomiannya sesuii harga CP Aramco, pasar spot gas internasional di level Rp 7.000/kg. Berdasarkan hitung-hitungan Pertamina, elpiji 12 kg berada di level Rp 5 ribu/kg atau masih berada di bawah harga keekonomiannya. “Sekarang harga keekonomiannya seharusnya sudah turun seiring pelemahan dolar AS,” pungkasnya.
Sementara itu, Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi), Sofyano Zakaria meminta pemerintah segera memberlakukan distribusi elpiji 3 kg secara tertutup menyusul kenaikan harga elpiji 12 kg sebesar Rp 100 per kg mulai 10 Oktober 2009 kemarin. Hal itu, akan menutup kemungkinan pengalihan pengguna elpiji 12 kg ke 3 kg sebagai akibat perbedaan harga kedua komoditas tersebut. "Distribusi tertutup ini dapat segera dilakukan Pertamina mengingat saat pembagian paket kompor dan tabung elpiji 3 kg kepada eks pengguna minyak tanah, telah dibagikan kartu pelanggan elpiji yang memuat nama pelanggan, agen, dan pangkalannya," ujarnya.
Menurut dia, kenaikan harga elpiji 12 kg memang dikhawatirkan memicu pengalihan konsumen 12 kg ke 3 kg akibat disparitas harga dan selanjutnya meningkatkan subsidi elpiji. Disparitas harga elpiji 12 kg dan 3 kg, lanjutnya, juga akan memancing oknum mencampur atau memindahkan isi tabung elpiji 3 kg ke 12 kg.
"Pemerintah perlu membentuk lembaga pengawasan terpadu yang berada di seluruh Tanah Air," ujarnya. Namun Sofyano mengakui posisi Pertamina cukup sulit mengingat harus mensubsidi elpiji 12 kg. Kenaikan harga tabung 12 kg juga akan menciptakan keadilan bagi rakyat kecil yang terpaksa beralih dari minyak tanah ke elpiji. Sebab, lanjutnya, konsumen elpiji 12 kg merupakan kelompok menengah ke atas yang sudah semestinya tidak mendapat harga elpiji yang dijual rugi oleh Pertamina. “Kenaikan harga 12 kg dalam kisaran 2-3% per bulan tidak terlalu berdampak pada daya beli masyarakat,” pungkasnya. [mdr]
Dengan semakin meningkatnya harga LPG ataupun harga kebutuhan-kebutuhan pangan masyarakat akan menimbulkan dampak yang negative yaitu pada meningkatnya tingkat kekerasan terhadap anak baik tataran domestik (rumah tangga) maupun public (masyarakat luas). Banyak kasus yang ditemukan, kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga, khususnya terhadap anak kerap diawali kekesalan dan emosional yang ditumpahkan karena masalah ekonomi dan ketidakmampuan memenuhi target kebutuhan sehari-hari.
Maka dari itulah, banyak masyarakat yang memperotes dengan naiknya harga LPG yang memepengaruhi harga kebutuhan lainnya. Dengan kata lain kenaikan LPG Yang jelas, kemiskinan dan pengangguran masih membayang-bayangi kehidupan bangsa ini. Yang tampak sekarang kenaikan harga LPG mendorong pedagang menaikkan harga barang, pengusaha yang juga ikut menaikan biaya jasa, dst. Ini
tegas menyulitkan kaum tak berpunya.
Pemerintah harus mengkaji dan memanfaatkan seoptimal mungkin sumberdaya alam (migas, emas, batubara dan lainnya) yang sangat melimpah itu, yang hakikatnya adalah milik seluruh rakyat. Harus ada strategi baru dalam memanfaatkan sumberdaya itu dari corporate based management (pengelolaan oleh swasta) ke state based management (pengelolaan oleh negera). Pemberian ladang konsesi kepada perusahaan asing untuk mengelola SDA terbukti membuat hasilnya lebih banyak dinikmati oleh perusahaan-perusahaan itu ketimbang yang dirasakan oleh rakyat.
Maka dari itu, peran pemerintah dIsini sangat besar sekali bagi kelangsungan hidup rakyat kecil. Pemerintah harus mampu mengatasi masalah yang ada agar kenaikan elpiji di Indonesia dapat teratasi dan kestabilan harga tetap stabil seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan diharapkan pemerintah selalu mengambil keputusan-keputusan yang dapat melepaskan rakyat dari krisis ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar